HEADLINE NEWS

Generasi Masjid Mulai Pudar? Ketika Warkop Lebih Ramai dari Takbiran

By On May 28, 2026

Perayaan Iduladha sejatinya bukan hanya momentum ibadah kurban, tetapi juga menjadi ruang kebersamaan umat dalam memakmurkan masjid. Namun fenomena yang kini mulai terasa di banyak daerah, termasuk di desa-desa, adalah semakin berkurangnya keterlibatan anak muda dalam meramaikan masjid saat malam takbiran maupun pelaksanaan hari raya.

Pemandangan yang dulu begitu hidup perlahan mulai berubah. Jika pada era 90-an hingga generasi milenial awal, malam takbiran identik dengan masjid yang ramai oleh anak-anak muda, remaja, hingga pemuda kampung yang ikut bertakbir, membuat obor, menjaga parkiran, membantu panitia kurban, hingga tidur di masjid demi mempersiapkan Iduladha, kini suasana itu mulai berkurang.

Sebaliknya, tidak sedikit anak muda masa kini yang lebih memilih menghabiskan malam di warung kopi, bermain gadget, nongkrong hingga larut malam, atau sibuk dengan media sosial dibanding hadir di masjid. Fenomena ini menjadi ironi tersendiri di tengah semakin megahnya bangunan masjid namun perlahan kehilangan denyut generasi mudanya.

Fenomena menurunnya keterlibatan generasi muda di masjid juga menjadi perhatian berbagai pihak. Kementerian Agama bahkan menyebut kecenderungan masjid yang lebih banyak diisi jamaah usia lanjut sebagai “fenomena global” yang perlu menjadi perhatian bersamaa. 

Padahal, generasi era 90-an dan milenial tumbuh dengan kultur sosial keagamaan yang lebih kuat di lingkungan masjid. Dulu, masjid bukan sekadar tempat salat, tetapi juga pusat aktivitas sosial anak muda. Dari latihan ceramah, lomba takbir, remaja masjid, hingga diskusi dan kegiatan olahraga sering berawal dari lingkungan masjid.

Sementara generasi Gen Z dan Gen Alfa tumbuh di era digital yang menghadirkan pola interaksi berbeda. Dunia virtual, media sosial, game online, hingga budaya nongkrong modern perlahan menggeser ruang interaksi sosial berbasis masjid. Akibatnya, hubungan emosional generasi muda dengan masjid tidak sekuat generasi sebelumnya.

Namun kondisi ini tidak sepenuhnya bisa disalahkan kepada anak muda semata. Masjid juga dituntut lebih adaptif terhadap perkembangan zaman. Sejumlah kalangan menilai pengelolaan masjid perlu menghadirkan pendekatan yang lebih kreatif, terbuka, dan relevan dengan karakter generasi muda masa kini.

Di beberapa daerah, upaya melibatkan generasi muda dalam kegiatan Iduladha mulai dilakukan, mulai dari memberi ruang kepanitiaan, melibatkan mereka dalam distribusi kurban, hingga membuat kegiatan sosial dan kreatif berbasis masjid. Langkah seperti ini dinilai penting agar masjid kembali menjadi ruang yang dirindukan anak muda, bukan sekadar tempat singgah saat salat hari raya.

Kritik terhadap menurunnya semangat anak muda meramaikan masjid bukan berarti membandingkan generasi secara mutlak. Setiap generasi memiliki tantangan zamannya sendiri. Namun jika fenomena ini terus dibiarkan, bukan tidak mungkin masjid akan semakin kehilangan regenerasi sosial dan spiritual di masa depan.

Iduladha seharusnya menjadi momentum menghidupkan kembali ikatan generasi muda dengan masjid. Sebab masjid yang ramai bukan hanya karena bangunannya megah, tetapi karena hadirnya generasi yang menjaga, memakmurkan, dan menghidupkan nilai-nilai kebersamaan di dalamnya.

Penulis : Saripuddin S, S.Kom., MM. 

Opini "Idhul Adha Bukan Sekedar Menyembelih Hewan Semata"

By On September 01, 2017


Idhul Adha atau lebih akrab dengan Hari Raya Qurban atau Hari Raya Berbagi Qurban...

Seiring waktu berjalan usia nan bertambah bagi kita bahkan qt mungkin terlibat aktif dalamnya baik itu ikut berqurban atau sekedar hanya ikut berpartisipasi dalam penyalurannya namun kita lupa bahwa sebenarnya seharusnya mengajarkan pribadi kita bahwa setiap rejeki ari Tuhan seharusnya kita pandai mengatur dan membaginya dengan sesama.

Seharusnya Kita sadar bahwa REJEKI dari Tuhan itu seharusnya kita bagi 3 dimana
1/3 Untuk Sesama supaya ikut merasakan nikmat bahagia kita,
1/3 Untuk Pribadi/Keluarga Kita sebagai penopang bertahan hidup, dan
1/3 Untuk Kita Kembalikan Kepada Tuhan lewat bantuan pembangunan tempat ibadah, fasilitas pendidikan, sosial, dll...

Harusnya itulah makna yang tertanam pada kita tapi seolah kita memahami Hari Raya Qurban itu hanya sekedar MENYEMBELIH Hewan semata...

Sama halnya dengan ILMU/PENGETAHUAN yang kita miliki jika cuman sekedar menjadi konsumsi pribadi kita tapi tidak bagikan/ajarkan kepada sesama tidak akan bernilai lebih dari apa yang sudah kita miliki...

Jadi pada dasarnya HARI RAYA IDHUL ADHA / HARI RAYA QURBAN bukanlah menyembelih hewan semata sebagai penggugur kewajiban tuntunan AGAMA namun Ada sisi positif yang terkandung didalamnya yakni MENGAJARKAN Kita Untuk Lebih Pandai Bersyukur Lewat PERBANYAK BERBAGI Atas setiap Rejeki Dari Yang Maha Pemilik Tuhan Alam Semesta.

Lamasi, 01.09.17
Arhyf Mande'
A_M3103

Contact Form

Name

Email *

Message *